Selasa, 29 Desember 2015

Hasil Resume buku

       “Bahasa Indonesia, Pengantar Penulisan Karya Ilmiah”  
Bab IX. Karya Ilmiah
Pengarang: Mukh Doyin dan Wagiran


 A.       Pengertian Karya Ilmiah

       Karangan ilmu pengetahuan dapat dibagi menjadi dua golongan, yakni karangan ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah (karangan ilmiah) dan karangan ilmu pengetahuan yang bersifat non-ilmiah (karangan non-ilmiah) (Jones dalam Brotowidjoyo, 1993:3)

B.       Ciri-ciri Karya Ilmiah

  Secara umum karya ilmiah dibedakan dengan karya non-ilmiah melalui ciri-cirinya. Secara ringkas ciri-ciri karya ilmiah adalah sebagai berikut.
  1. Menyajikan fakta objektif secara sistematis atau menyajikan aplikasi umum pada situasi spesifik.
  2. Penulisannya cermat, tepat, dan benar, seta tulus. Tidak memuat terkaan.
  3. Tidak mengejar keuntungan pribadi, yakni tidak berambisi agar pembaca berpihak kepadanya. Motivasi penulis hanya untuk memberitahukan sesuatu. Penulis ilmiah tidak ambisius dan tidak berprasangka.
  4. Karangan ilmiah itu sistematis, tiap langkah direncakan secara sistematis terkendali, secara konseptual dan prosedural.
  5. Karangan ilmiah itu tidak emotif, tidak menonjolkan perasaan. Karangan ilmiah menyajiakan sebab-musabab dan alasan yang dikemukakan induktif, mendorong untuk menarik Simpulan tidak terlalu tinggi, dan bukan ajakan.
  6. Tidak memuat pandangan-pandangan tanpa data pendukung.
  7. Ditulis secara tulus dan memuat hanya kebenaran. Tidak memancing pertanyaan-pertanyaan yang bernada keraguan.
  8. Karangan ilmiah tidak bwrsifat argumentasi. Karangan yang ilmiah mungkin mencapai Simpulan tetapi penulisnya membiarkan fakta berbicara sendiri.
  9. Karanagan ilmiah tidak bersifat persuasif; yang dikemukakan fakta dan aplikasi hukum alam kepada problem spesifik. Tujuan karangan ilmiah dapat mendorong pembaca mengubah pensapat tetapi tidak melalui ajakan, argumentasi, sanggahan, protes.
  10. Karangan ilmiah tidak melebih-lebihkan sesuatu. Dalam karangan ilmiah hanya menyajikan kebenaran fakta; oleh sebab itu memutar balikkan fakta akan menghancurkan tujuan penulisan karangan ilmiah. Melebih-lebihkan sesuatu itu umumnya didorong oleh motif mementingkan diri sendiri.


C.       Jenis Karya Ilmiah

1.      Karya Ilmiah Akademis

Karya ilmiah akademis memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
  1. Karya ilmiah yabg ditulis dalam rangka kegiatan akademis dan biasanya ditulis sebagai syarat memperoleh gelar akademis. Misalnya, skripsi.
  2. Karya ilmiah akademis ditulis oleh siswa/mahasiswa di bawah bimbingan dan tanggung jawab orang yang lebih profesional. Misalnya, makalah atau skripsi.
  3. Karya ilmiah akademis biasanya tidak dipublikasikan, hanya didokumentasikan dalam perpustakaan. Jika akan dipublikasikan harus disunting lagi dan disusun berdasarkan format publikasi. Misalnya, artikel ilmiah atau buku.
  4. Karya ilmiah akademis memerlukan proses pengujian oleh orang-orang kaum profesional untuk menentukan kualitas karya akademis, misalnya, sebuah makalah yang disusun oleh mahasiswa akan dinilai oleh pengampu mata kuliah tersebut, skripsi akan diuji dalam sidang skripsi, dan sebagainya.
  5. Karya ilmiah akademis lebih menekankan pada proses daipada hasil. Hal ini menunjukkan bahwa penyusun masih dalam taraf belajar dan membutuhkan bimbingan sampai menghasilkan karya yang bermutu baik. Proses penyusunan karya ilmiah akademis akan dapat memakan waktu lebih lama dan mengalami refisi naskah berulang-ulang. Bahkan skripsi yang telah dipertahankan dalam uji sidang masih perlu disempurnakan kembali sebelum jilid menjadi skripsi jadi.
  6. Karya ilmiah akademis biasanya ditulis oleh perorangan namun ada pula yang disusun oleh tim.
  7. Penulisan karya ilmiah akademis biasanya atas prakarya pengolahan akademis karena karya ilmiah tersebut merupakan salah satu syarat mencapai gelar akademis. Oleh karena itu, penulisan karya ilmiah bersifat wajib.
  8. Contoh karya ilmiah akademis adalah makalah/tugas kuliyah/paper, skripsi, tesis, disertasi.


2.      Karya Ilmiah Profesional

Karya ilmiah profesional ditulis sebagai sarana pengembangan profesi bagi kaum profesioanl. Ciri karya ilmiah profesional adalah sebagai berikut.
  1. Karya ilmiah profesional ditulis sebagai sarana pengembangan profesi
  2. Penulisan karya ilmiah profesional tidak memerlukan pembimbing. Penulis bertanggung jawab penuh atas karya ilmiahnya.
  3. Karya ilmiah profesional tetap memerlukan penilaian untuk menguji tingkat kualitas mutu karya ilmiah. Penilaian karya ilmiah ini dapat berupa penyuntingan ahli dalam sebuah jurnal ilmiah atau evaluator dalam sebuah penelitian.
  4. Karya ilmiah ini pada umumnya diterbitkan untuk menyebarluaskan informasi akademis.
  5. Penulisan karya ilmiah lebih menekankan hasl daripada proses.
  6. Disusun oleh perorangan atau tim dengan cara mengajukan usulan dan melalui sistem kompetisi untuk mendapatkan pendanaan.
  7. Contoh karya ilmiah profesional adalah laporan penelitian, artikel ilmiah, buku teks, makalah, dan sebagainya.


  1. Bentuk Karya Ilmiah
Ada beberapa bentuk karya ilmiah, yaitu
a.       Buku
Merupakan karya ilmiah yang paling mudah dijumpai karena beredar secara umum. Buku ilmiah ini biasanya bersifat informatif, berisi ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dibanding dengan jenis karya ilmiah yang lain isi buku lebih lengkap, lebih luas, dan pembahasan masalahnya lebih terperinci.

b.      Makalah
Adalah karya tulis yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data di lapangan yang bersifat empiris-objektif (Arifin 2000:2). Ada dua pola dalam makalah, yaitu pola deskriptif dan pola argumen (Pranowo 1999:4). Makalah biasanya disiapkan untuk digunakan dalam forum seminar. Makalah dapat diangkat dari hasil peneltian, dapat juga diangkat dari gagasan atau ide.
Isi makalah bergantung kepada kegunan atau maksud makalah tersebut dibuat. Jika makalah dibuat untuk disajikan dalam seminar atau untuk memenuhi tugas kuliah –bagi mahasiswa-maka isinya bersifat argumentasi. Makalah demikian berisi hal-hal yang aktual dan disertai pendapat sifatnya lebih informatif. Dalam makalah seperti ini yang lebih dipentingkan bukan persoalannya, tetapi bagaimana upaya memecahkan persoalan tersebut.

c.       Kertas kerja
Adalah karya ilmiah yang berisi analisis terhadap fakta secara objektif. Analisis yang dilakukan dalam karya kerja lebih dalam dari pada makalah. Biasanya kertas kerja dilakukan sebagai bahan kokarya (Arifin 2000:3). Karena untuk kokarya maka informasi yang ada dalam kertas kerja lebih terperinci dan lebih lengkap dibandingkan dengan makalah.

d.      Artikel
Adalah karya ilmiah yang dikhususkan untuk diterbitkan di jurnal ilmiah. Ada dua bentuk artikel ilmiah, yaitu artikel yang diangkat dari gagasan atau ide penulisan artikel penelitian artikel yang diangkat dari hasil penelitian. Perbedaan kedua jenis artikel tersebut terletak pada bagian isi. Jika dalam artikel konseptual antra bagian pendahuluan dan bagian penutup hanya berisi isi artikel –yang bisa terdiri atas beberapa subbab; maka artikel penelitian antara bab pendahuluan dan bagan penutup terdapat bagian landasan teori, metode yang digunakan, dan hasil dan pembahasan.

e.       Tugas akhir, skripsi, tesis, dan disertasi
Adalah karya ilmiah yang dibuat untuk memenuhi persyaratan dalam pencapaian gelar akademik. Tugas akhir digunakan sebagai persyaratan memeroleh gelar Ahli Madia, skripsi untuk memeroleh gelar sarjana, tesis untuk memeroleh gelar megister, dan disertasi untuk memeroleh gelar doctor. Tingkat kedalaman keempat jenis karya ilmiah tersebut tentu saja berbeda karena gelar yang ingin dicapai pun tingkatnya berbeda. Penulisan jenis karya ilmiah ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu melalui penelitian lapangan dan melalui penelitian pustaka. Penelitian lapangan berarti masyarakat, sedangkan penelitian pustaka berarti penelitian yang dilakukan pada buku-buku atau bacaan-bacaan lainnya.

f.       Laporan penelitian adalah karya ilmiah yang menyajikan data dan analisis dari suatu penelitian. Dalam penelitian selain disajikan analisis data yang dapat dibuktikan kebenarannya juga disajikan teori-teori yang melandasi penelitian tersebut.

  1. Kerangka Umum Karya Ilmiah
Pola dasar karya ilmiah secara umum paling sedikit berisikan bagian-bagian yang sudah baku, yaitu bagian pengenalan, batang tubuh, dan kepustakan (Rifai 1998:61-62). Dalam bahasa yang sederhana ketiga bagian tersebut dapat juga disebut dengan istilah bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir. Isi untuk masing-masing bagian berbeda-beda antar jenis karya ilmiah yang satu dengan yang lain. Antara buku dan makalah, misalnya, isi pengenalannya lebih banyak buku. Demikian juga dengan jenis karya ilmiah yang lain. Berikut diuraikan ketiga bagian tersebut secara terperinci.


Pengenalan

Bagian pengenalan barisi hal-hal yang bersifat informatif tentang karya ilmiah tersebut. Ada dua jenis bagian pengenalan, yaitu yang bersifat umum-ada pada semua jenis karya ilmiah-dan yang bersifat khususnya dimiliki jenis karya ilmiah tertentu. Secara lebih lengkap bagian pengalaman untuk masing-masing bentuk karangan dapat dilihat pada uraian beriku.

Buku                                         Judul
Nama Penulis
Nama penerbit dan tahun terbit
Identitas buku
Kata pengantar
Daftar isi

Makalah                                    Judul
Nama penulis

Artikel                                       Judul
Nama penulis
Abstrak
Kata kunci

Kertas kerja                               Judul
Nama penulis

Skripsi, Tesis, Disertasi              Judul
Nama penulis
Nama perguruan tinggi
Halaman persetujuan
Halaman pengesahan
Halaman motto dan persembahan
Abstrak
Kata pengantar
Daftar isi

Laporan Penelitian                     Judul
Nama penulis
Nama lembaga
Lembaga pengesahan
Abstrak
Daftar tabel dan lampiran
Kata pengantar
Daftar isi

Beberapa istilah yang belum disebut dalam bagian pengenalan yang perlu dijelaskan disini adalah judul, nama penulis (bagian kepemilikan), abstrak, dan kata kunci.

a.       Judul adalah identitas tulisan yang utama. Syarat judul karya ilmiah yang baik dibicarakan pada langkah-langkah penulisan karya ilmiah. Dalam baris kepemilikan biasanya dituliskan nama beserta nama lembaganya. Dalam penulisan hendaknya ditinggalkan pangkat, kedudukan, dan gelar akdemik. Jika karangan ditulis oleh dari satu orang dan disertai dkk. atau et al. Pangkat, kedudukan, dan gelar dapat dicantumkan dalam catatan atau lampiran-jika ada iografi pengarang.

b.      Abstrak adalah ringkasan tulisan. Dengan membaca abstrak orang akan tahu isi secara singkat karya ilmiah tersebut. Oleh karena itu dalam abstrak harus mencakupi seluruh bagian isi karangan, isi penduluan sampai penutup (ada alasan, pembahasan, kajian pustaka, metode, hasil, dan pembahasan, serta simpulan untuk karya ilmiah dari hasil penelitian bersifat konseptual). Penekanan abstrak ada pada hasil pembahasan. Pada umumnya abstrak untuk artikel ilmiah disajikan dalam satu paragraf dengan menggunakan tidak lebih dari 200 kata. Sedangkan abstrak untuk laporan penelitian, tugas akhir dan skripsi dalam 4-6 paragraf sepanjang 1-2 halaman kuarto spasi tunggal.

c.       Kata kunci adalah kata-kata atau istilah yang dianggap penting dan mutlak harus diketahui pembaca dalam sebuah karya ilmiah. Biasanya kata kunci tidak lebih dari delapan kata.

Batang Tubuh
Batang tubuh adalah isi karya ilmiah yang sebenarnya. Secara umum bagian batang tubuh terbagi menjadi tiga, yaitu bagian pendahuluan, bagian isi, dan bagian penutup.

Bagian Kepustakan
Termasuk bagian ini adalah daftar pustaka dan lampiran-lampiran, seperti indeks dan biografi pengarang.

  1. Penalaran dalam Karya Ilmiah
1.      Penalaran, Pikiran, dan Bahasa
Pengembangan penalaran tidak dapat dilepaskan dari pemikiran tentang bahasa dan pikiran.

“Dalam hubungan bahasa dan pikiran, dikenal dengan adanya inner speech dan external speech merupakan suatu ujaran, yakni pikiran yang berkaitan dengan kata. Kata-kata itu lenyap pada saat pikiran terbentuk, sedangkan external speech menerangkan bahwa pikiran itu terwujud dalam kat-kata.” (Djarjowidjojo, 2003:284).

Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa jalan pikiran seseorang terlihat bagaimana seseorang menggunakan bahasanya. Demikian juga, bahasa seseorang akan menunjukkan bagaimana cara dia menggunakan pikiran atau bernalar. Berkenaan dengan itu, peribahasa “bahasa menunujukkan bangsa” merupakan bentuk penegasan bahwa cara berbahasa seseorang menunjukkan jalan pikirannya. Bila bahasa yang digunakan tidak sistematis, merupakan pertanda jalan pikirannya juga tidak sistematis, demikian pula sebaliknya. Dengan kata lain, corak bahasa seseorang menunjukkan pola penalaran.

Berkenaan dengan pengertian penalaran, Keraf (1982) dan Moeliono (1989) menegaskan bahwa penalaran adalah proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk, eviden, atau hal yang lain yang bisa dianggap sebagai bahan yang dapat digunakan untuk menarik Simpulan. Secara umum, peanalaran dapat dilakukan melalui dua cara, yakni secara deduktif dan secara induktif.


2.      Jenis penalaran
a.      Penalaran Induktif
Penalaran induktif yaitu suatu proses berpikir yang bertolak dari hal-hal  khusus menuju sesuatu yang bersifat umum. Penalaran ini dapat dilakukan dengan tiga cara, yakni.

1)      Generalisasi atau perampatan adalah proses penalaran yang bertolak dari sejumlah gajala atau peristiwa yang serupa untuk menarik Simpulan mengenai semua atau sebagian gejala atau peristiwa tersebut.
2)      Anologi induktif adalah suatu proses yang bertolak dari dugaan, peristiwa, atau geajala khusus yang satu dengan yang lainnya memiliki kesamaan. Kesamaan karakteristik atau gejala dari dua hal yang dibandingkan menjadi titik tolak menarik Simpulan.
3)      Hubungan kausalitas (sebab-akibat), menurut hukum kekausalitas, semua kejadian yang ada di dunia ini terjadi berdasarkan hubungan sebab akibat. Kejadian tertentu merupakan akibat adanya kejadian lain. Kejadian yang menjadi akibat tersebut selanjutnya akan menjadi penyebab munculnya kejadian yang merupakan akibat dari kejadian tersebut. Demikian seterusnya, rangkaian hubungan sebab akibat tersebut berlangsung terus menerus.

b.      Penalaran Deduktif
Pada pola penalaran deduktif, telah diketahui kebanaran umum kemudian ditarik Simpulan menuju hal-hal yang bersifat khusus. Singkatnya deduktif adalah proses berpikir yang bertolak dari sesuatu yang bersifat umum (prinsip, hukum, teori, keyakinan) menuju hal-hal khusus.

Pola penalaran deduktif dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni silogisme dan entimem. Silogisme adalah suatu proses penalaran yang menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang bersifat umum dan berlainan untuk menarik sebuah Simpulan yang merupakan proposisi ketiga yang bersifat khusus. Silogisme dibagi menjadi tiga, yakni

1)      Premis mayor, merupakan generalisasi yang telah dianggap benar menurut semua unsur atau anggota kelas tertentu.
2)      Premis minor, berisi proposisi yang mengidentifikasi atau menunjuk sebuah khusus atau peristiwa khusus sebagai anggota dari kelas itu.
3)      Simpulan adalah proposisi yang menyatakan bahwa apa yang berlaku bagi seluruh kelas, akan berlaku pula bagi seluruh kelas, akan berlaku pula bagi anggota-anggotanya (Akhadiah dkk 2001:2.16; Suparno dan Yunus 2003: 1.45).

c.       Salah Nalar
Salah nalar (logical fallacy) adalah kekeliruan dalam proses berpikir karya keliru menafsirkan atau menarik Simpulan. Kekeliruan ini dapat terjadi karena faktor emosional, kecerobohan, atau ketidaktahuan (Suparno dan Yunus 2003:1.47).


(Doyin, Mukh dan Wagiran. 2012. Bahasa Indonesia Pengantar Penulisan Karya Ilmiah. Cetakan Ketiga. Semarang: Unnes Press)

Selasa, 06 Januari 2015

Syukur

(Dening : N.H )

Teranging jagad
Hamiyak ..
Kepelanipun mendung
Sih nggegem mangsa
Panjangipun tan kira-kira
Pratiwi hapeteng ndedet
Tanpa pratanda
Ya namung waton polahe angin

Rikala ..
Mripate cumlorot
Nyenteri jagadipun
Sedaya bakal katingal
Warna-warninipun
Rupaning citra lan rasa
Kasorot aning tawang
Den nggaet manah kita

Larikanipun wit-witan
Cumetha ijo royo-royo
Katon ngombak uga ngawe-awe
Marang polahe angin
Den dawuhi njur migunani
Mring gesange manungsa
Menika kanekmatanipun Gusti
Mila, syukur tansah sedaya raosaken 


Senin, 05 Januari 2015

Suluk Linglung Sunan Kalijaga Ngemot Tauhid lan Makrifat (2)

Winastan Suluk Linglung

Raden Mas Said, ya Kanjeng Sunan Kalijaga, nalika iku, wus golong-gilig penggalihe, nedya ngupadi ngelmu kang dadi gegebengane para Nabi. Lan kasunyatan Sunan Kalijaga nalika iku, wus kasil mancat tataran tauhid kang dhuwur.

“Lurua ngelmu, senajan kudu nyabrang segara geni…!!” ngono dhawuh dalem Kanjeng Nabi. Raden Mas Said, nalika semana, penggalihe, tinalasak rasa mamang lan bingung. KayadeneLinglung lan kalimput penggalihe. Jalaran, kabeh ngelmu kang wus dimangerteni, dipahami, lan dingamalake, kanthi kebak rasa kuma­-wula marang Allah, nanging Raden Mas Said (rumangsa) isih gampang kagiri godha dening napsune, lan (malah), kayadene, ora kuwawa nduwa. Maneka werna kupiya, wus katindakake, murih uripe mengkone, bisa nglerem pamo-thahing napsune, aja nganti nglantur, kang mung kayadene rumangsa marem, mung dhahar lan sare Nanging Raden Mas Said, tetep wae, kayadene, penggalihe kalah perang nglawan napsune. Puntone Kanjeng Sunan pasrah marang Allah, karana ya mung Allah, minangka pungkasaning pe-pasrah.

Kanjeng Sunan nyuwun marang Allah, supaya penggalihe enggal ka-bukak, murih penggalihe dadi istiqo-mah, jumbuh kelawan pangajaping penggalih, tumuju menyang dalan sembah lan puji. Kanjeng Sunan tan kendhat tansah manekung kebak ing pandonga, senajan sinartan rasa-ru-mangsa, yen manungsa, ora bisa uwal saka dosa, kang tinindakake duk rikala taruna, kang mbokmenawa Allah du-rung kepareng paring pangapura. Se-najan wus sawetara anggone nindaka-ke bab kasebut, ewasemono, kok kaya-dene durung ana pratandha yen dongane pinaringan Kabul. Tundhone Kanjeng Sunan mawas-dhiri. Yagene kok laku-lampah kang kang wus katindakake semono lawase, kok hida-yah saka ngersa dalem Allah durung tumurun. Apa ana saweneh laku-lam-pah kang luput?

Tekan tataran wektu kasebut, Kan-jeng Sunan anane mung kendel/me-neng. Piyambake banjur “uzlah” (ning-galake prekara donyawiyyah). Woh saka laku-lampah kang keri iku, kaya dene ana wewisik. Ing penggalihe, kayadene ana suwara cacah loro kang dumeling, yaiku siji suwara Malaikat, siji suwara syetan, kang padha pepadon. Senajan suwara mau serone ora kaya lumrahe pepadon, nanging kukuh ora ana lerene. Kanjeng Sunan uga sadhar, yen perkara ala lan becik iku, wus sak pase, yen padha rebut papan, rebut unggul.

Gandheng rumangsa yen laku-lam-pah uzlah, durung ana tandha-tandha yen tumurun pituduhe Allah, tundhone Kanjeng Sunan anteb-anteban, nedya nindakake laku ngothongake padhara-ne, tegese nindakake ngelih-ngelak. Bubar iku, Kanjeng Sunan protes lan nagih marang Allah “opahe” laku-lam-pah kasebut. Nanging Allah kayadene mung kendel, ora paring jawaban.

“Lha iya wus samesthine ta ya, yen aku nagih marang Allah, sengara kapa-ringan wangsulan, wong Allah pancen ora utang…!! Lha ya sengara nglunasi ta ya,… wah…!!!” ngono pangandikane ana penggalihe Kanjeng Sunan. Punto-ne Kanjeng Sunan mutusake, yen nedya meguru marang Sunan Bonang. Temen-an. Kanjeng Sunan sawise iku, banjur nindakake laku sumingkir, ing desa Bonang. Kanjeng Sunan banjur nglebur tapak asta, lan nyuwun supaya didu-nungake marang hakekating urip kang haqiqi. Dening Sunan Bonang, Sunan Kalijaga kadhawuhan mangsah semedi, nindakake tapa-brata, sarana nunggoni wit gurda, lan ora dikeparangake jugar, sadurunge kadhawuhan jugar.

Wiwit wektu iku, kanjeng Sunan, dadi priyayi kang tuhu ngedab-edabi. Kekarepane kang teguh santosa, kang tanpa kendhat ambudidaya, mula ora mokal, karana idin saka Ngarsa Dalem Allah SWT. Wiwit iku uga rasa “ling-lang-ling-lung” mbaka sithik bisa uwal saka hanggane Kanjeng Sunan.

Kejaba iku, karana Kanjeng Sunan uga maksih turun priyayi adharah luhur, yaiku putra saka Kanjeng Adipati Tuban, ya panjenengane Wilatikta. Ya karana kawitane saka rasa “ling-lang-ling-lung”, mula wewarah kasebut winas-tan Suluk Ling-lung. (Cuthel)


http://www.panjebarsemangat.co.id/suluk-linglung-sunan-kalijaga-ngemot-tauhid-lan-makrifat-2

Suluk Linglung Sunan Kalijaga Ngemot Tauhid lan Makrifat


Sunan Kalijaga, mujudake manggala, saka saweneh Wali Sanga, kang kaloka raket kelawan kaum muslim, karana ka­wegigane nglebokake pengaruh Islam, ing jroning tradhisi jawa. Akeh kang nela­kake, yen Kanjeng Sunan Kalijaga iku, yus­wa­ne, luwih saka 100 taun. Sunan Kalijaga kagungan andhil, sajrone peme­rintahan Majapahit, Kasultanan Demak, Kasultanan Cirebon, apadene Banten. Malah-malah uga Krajan Pajang, kang lair taun 1546, sarta kawitaning Krajan Ma­taram, kang pinarentah dening Panem­bahan Senopati. Kanjeng Sunan uga ndhe­rek ngrancang pembangunan Masjid Agung Demak. Saka “tatal”, mujudake sa­weneh pilar utama Masjid, mujudake kreasi Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga miyos, udakara taun 1450, kanthi asma Raden Said. Kanjeng Sunan, putra saka adipati Tuban, kekasih Tumenggung Wilatikta (ana saweneh kang nyebutake Wilwatikta), utawa Raden Sahur. Sunan Kalijaga, uga kagungan asma seje, kayadene: Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, apadene Raden Abdurrahman.

Bab asal-usul Kanjeng Sunan, ana sawetara penemu. Ana kang mratelakake, yen Kanjeng Sunan iku maksih keturunan Arab. Nanging, uga ora sithik, kang nan­dhesake, yen Kanjeng Sunan Kalijaga iku, Jawa asli. Van Den Berg, nelakake, yen Kan­jeng Sunan Kalijaga iku, (pancen) ke­turunan Arab, kang sarasilahe, nganti tekan Rasulullah SAW. Sawetara iku, mi­turut Babad Tuban, nelakake, yen Aria Teja aliyas “Abdul Rahman, wus kasil ng-Islam-ake Adipati Tuban, Aria Dikara, lan nikahi putrane. Saka perkawinan kasebut, nglair­ake putra, sesilih Aria Wilatikta. Miturut cathetan Tome Pires, panguwasa Tuban, taun 1500 Masehi, mujudake wayah saka panguwasa Islam kawitan, ing Tuban. Sunan Kalijaga aliyas Raden Mas Said, putra saka Aria Wilatikta. Sejarawan seje, kayadene De Graaf, mbenerake, yen Aria Teja, kagungan sarasilah kelawan Ibnu Abbas, paman dalem Kanjeng Nabi Muhamad SAW.

Suluk Linglung

Suluk Linglung riptane Kanjeng Sunan Kalijaga, awujud Sekar Kinanthi, sapupuh, kedadeyan saka 7 pada. Watake Sekar Kinanthi, yaiku: seneng, tresna, mathuk kinarya mulang-muruk, apadene sipat ang­gulawenthah, kang ngemu rasa tresna. Saperangan gedhe, galihing tembang kasebut, ngemot rasa Tauhid apadene Makrifat Dene Suluk Linglung kang wujud Tembang Kinanthi mau, yaiku:


Pada 1.

Birahi ananireku/aranira Allah jati/ tan ana kalih tetiga/ sapa wruha yen wus dadi/ ingsun weruh pesthi nora/ ngarani namanireki.

Saka kersa dalem Allah, andadekake wujudira, kanthi anane wujudira, mra­tandhani bab anane Allah kanthi sayekti. Mokal Allah iku sipat loro, apamaneh nganti cacah telu. Sok sopoa kang wus mangerteni sangkan paraning anane, mesthi iku wong mokal nedya nyungarake dhirine.

Besetane:

Yen Allah ngersakke sawiji-wiji, mung ngendika”kun-fayakuun”, mangka banjur ana wujud. Saweneh saka sipat wajib Allah, kang 20, kang sepisanan aran “Wujud”, kang maknane Allah iku ana. Allah minangka “Sang Kholiq”, dene ma­nungsa minangka (saweneh) “Makhluq” Kholiq, tegese kang nyipta, Makhluq, ka­siling ciptan. Ing kawitaning Surat Ikhlas, yen katerjemahake, maknane”Dhawuha sira Muhamad, yen Allah iku siji”. Dadi mokal, yen Allah iku ana loro, utawa telu. Ing kene diajap, manungsa supaya kuma­wula, lan ngabekti/ngibadah marang Allah. Ing Surat Adz-Dzariyat, ayat 56, Allah paring dhawuh:”Lan Ingsun nyipta jin lan manungsa, mung supaya padha nyem­bah marang Ingsun”.

Ing kene mengku werdi, yen ma­nungsa minangka titah, kudu pana, lan rumangsa, yen ana kang anitahake. Ma­nungsa cinipta minangka makhluk kang saendah-endahe makhluk. Nanging yen ora pinter njaga drajat ke-insaniyahan-e, bakal didhunake sacendhek-cendheke drajat titah. Kejaba kang iman lan gelem ngamal sholeh.


Pada 2.

Sipat jamal ta puniku/ingkang kinen angarani/ pepakane ana ika/ akon ngarani puniki/ iya Allah angandika/ mring Muhamad kang kekasih.

Besetane:

Satuhune sipat bagus utawa endah tur pinuji, iku, yaiku sipat kang tansah mbu­didaya nyebutake, yen hakikate, anane dheweke, karana ana kang maujudake. Mangkono pangandikane dalem Allah, marang Muhamad kekasih Dalem. Allah iku Maha Endah, lan remen (marang) ka­endahan. Yen gelem metani kanthi njli­met, yektine ing saben epek-epeking ma­nungsa kiwa lan tengen iku, tinemokake angka Arab 18 lan 81, kang yen ka­gung­gung, ana 99, yaiku kang aran ”Asma’ul Husna”.


Pada 3.

Yen tan ana sira iku/ ingsun tan ana ngarani/ mung sira ngarani ingwang/ dene tunggal lan sireki/ iya ingsun iya sira/ aranira aran mami

Besetane:

Yen tan ana sipat titah, ya durung katon araning sipat kang hanitahake. Karana ana sipating titah, banjur ketemu kang hanitahake. Gampanging kandha, ana wujud barang, mesthi ana kang nyipta, utawa ana kang gawe. Karana ananing sira (kang wujud manungsa), mangka ya manungsa kang nyebut marang Ingsun. Ya Ingsun Allah kang nyipta sira (kang wujud manungsa). Wujudira, mracihna­kake wujud Ingsun (Allah).

Kita minangka titah, kudu eling ma­rang kang hanitahake. Keplasing tumrap tata ngelmu pasrawungan sosial, yen sira rumangsa tinuntun dening lelabuhaning sepadha-padha, sawise sira kasil dadi wong kang mulya, aja lali marang lelabuh­an kasebut, (senajan upamane, kang lelabuh, ora njaluk pinwales). Ana unen-unen, yen sira ngeyub ana sangisor­ing wit kang gedhe (tur eyub), aja lali marang kang nandur wit kasebut.


Pada 4.

Tohid hidayat sireku/ tunggal lawan Sang Hyang Widhi/ tunggal sira lawan Allah/ uga donya uga akhir/ rumangsa­nana pangeran/ ya Allah ananireki.

Besetane:

Pituduh bab anane Allah Kang Sipat Siji, iku nyawiji apadene manunggal marang Allah, tansah cecaketan marang Allah (taqarruban illallah), iman iku nalika isih ana alam donya, apadene mengkone sawise ana alam kasedan jati. Lan kudu rumangsa yen Allah iku ana ing hangga­nira.

Pada iki mengku pasemon, yen sawise katitahake, manungsa kudu manembah marang kang hanitahake. Yaiku kanthi mbudidaya, tansah nindakake apa dhawuh dalem Allah, lan mbudidaya, nyingkiri, apa kang dilarang dening Allah, lan yaiku kang ingaran taqwa. Allah iku didohi, ya sang­saya adoh, dicedhaki, ya sangsaya cedhak. Tembung manunggal, utawa nyawiji, ing kene mengku werdi, supaya manungsa tansah cecaketan marang Allah, tegese tansah eling (dzikir) marang Allah, wiwit ana donyane, jalaran, sawise mati, wus mung kari nampa wohing pakarti nalika ana donyane. Kabeh pakarti kang ana donya, bakal diundhuh ana akherat.


Pada 5.

Ruh idhofi neng sireku/ makrifat ya den arani/ uripe ingaran syahdat/ urip tunggil jroning urip/ sujud rukuk panga­sonya/ rukuk pamore Hyang Widhi.

Besetane:

bab Ruh Idhofi. Ing jagading Ngelmu Kebatinan, ing jroning badaning manungsa tinemokake ruh cacah 9, yaiku Ruh Idhofi, Ruh Robbani, Ruh Rohani, Ruh Nurani, Ruh Kudus, Ruh Rohmani, Ruh Jasmani, Ruh Nabati lan Ruh Haya­wani. Dene tembung Makrifat. Makrifat, yektine saka aksara Arab, utawa panulise Ma’rifat. Ma’rifat, saka tembung ya’rifu-irfan- ma’rifat, kang tegese kawruh, utawa pengalaman.

Nanging uga bisa dimaknani kawruh bab rahasia hakikating agama, yaiku ngelmu kang luwih manjila, katimbang ngelmu padatan umume, mligine, kang magayutan, kelawan batiniyyah. Uripe ing­aran syahdat. Tinulis, “syahdat”, (wutuhe “syahadat”), karana kanggo njum­buhake guru wilangan, ing saben gatra, tumrap tembang kasebut, ing kene mengku teges, manungsa minangka seksi, apadene anekseni, yen setuhune ora ana pangeran kejaba Allah, lan Nabi Muhamad minangka utusan Allah. Sawise ngucapake kalimah syahadat Tauhid lan syahadat Rasul, urip tunggil jroning urip, uripe, yekti mung angakoni syarengat sawiji, banjur, sujud rukuk pangasonya. Tegese, pepaese, kanthi nindakake pang­ibadahan kanthi sholat. Nindakake sholat, ateges, (mbudidaya), tansah cecaketan kelawan Allah SWT.


Pada 6.

Sekarat tan ana nyamur/ ja melu, yen sira wedi/ lan ja melu-melu Allah/ iku aran sakaratil/ ruh idhofi mati tan na/ urip mati mati urip.

Besetane:

Ruh Idhofi, uga winastan “Johal awal suci”. Manut kapitayan, ya karana Ruh Idhofi, manungsa bisa urip. Yen Ruh ka­sebut, uwal saka badane manungsa, mangka manungsa bakal nemahi tiwas. Ruh kasebut, mujudake Ruh utama, kang duwe wenang mrentah ruh sejene. Mula ing ngarep kasebutake “tan ana nyamur”, tegese ora sisib. Ja melu yen sira wedi. Ana unen-unen “Yen wedi aja wani-wani, yen wani, aja wedi-wedi”. Iku nari karep­ing ati. Yen ana piweling lan ja melu-melu Allah, tegese, yen nedya “melu” Allah, ya aja nganggo mamang, tegese, temen-temen ndherek dhawuh, lan nyingkiri larang­an. Sakaratil, yaiku titimangsa, tetkala­ne manungsa meh ajal. Ya iku kang padha diwedeni. Nanging, tumrap kang wus iman, anane mung pasrah, karana umur manungsa, iku uga kagungan Ndalem Allah. Urip mati, mati urip. Ing kene, jlentrehe, yektine mati iku, dudu pungkasaning urip, nanging purwakaning urip langgeng. Tegese, ing mengkone, sawise mati, bakal ana urip candhake, yaiku alam seje kang langgeng, nalika ma­nungsa tekan titimangsa ngundhuh wohing pakarti nalika ana donya, ya kang ingaran alam akherat. Ing kana ma­nungsa bakal nampa siksa apa nugraha, gumantung pokale.



(Ana Candhake)

Winastan Suluk Linglung

Raden Mas Said, ya Kanjeng Sunan Kalijaga, nalika iku, wus golong-gilig penggalihe, nedya ngupadi ngelmu kang dadi gegebengane para Nabi. Lan kasumyatan Sunan Kalijaga nalika iku, wus kasil mancat tataran tauhid kang dhuwur.

“Lurua ngelmu, senajan kudu nyabrang segara geni…!!” ngono dhawuh dalem Kanjeng Nabi. Raden Mas Said, nalika semana, penggalihe, tinalasak rasa mamang lan bingung. Kayadene Linglung lan kalimput penggalihe. Jalaran, kabeh ngelmu kang wus dimangerteni, dipahami, lan dingamalake, kanthi kebak rasa kumawula marang Allah, nanging Raden Mas Said (rumangsa) isih gampang kagiri godha dening napsune, lan (malah), kayadene, ora kuwawa nduwa. Maneka werna kupiya, wus katindakake, murih uripe mengkone, bisa nglerem pamothahing napsune, aja nganti nglantur, kang mung kayadene rumangsa marem, mung dhahar lan sare Nanging Raden Mas Said, tetep wae, kayadene, penggalihe kalah perang nglawan napsune. Puntone Kanjeng Sunan pasrah marang Allah, karana ya mung Allah, minangka pungkasaning pepasrah.

Kanjeng Sunan nyuwun marang Allah, supaya penggalihe enggal kabukak, murih penggalihe dadi istiqomah, jumbuh kelawan pangajabing penggalih, tumuju menyang dalan sembah lan puji. Kanjeng Sunan tan kendhat tansah manekung kebak ing pandonga, senajan sinartan rasa-rumangsa, yen manungsa, ora bisa uwal saka dosa, kang tinindakake duk rikala taruna, kang mbokmenawa Allah durung kepareng paring pangapura. Senajan wus sawetara anggone nindakake bab kasebut, ewasemono, kok kayadene durung ana pratandha yen dongane pinaringan Kabul. Tundone Kanjeng Sunan mawar-dhiri. Yagene kok laku-lampah kang kang wus katindakake semono lawase, kok hidayah saka ngersa dalem Allah durung tumurun. Apa ana saweneh laku-lampah kang luput?

Tekan tataran wektu kasebut, Kanjeng Sunan anane mung kendel/ meneng. Piyambake banjur “uzlah” (ninggalake prekara donyawiyyah). Woh saka laku-lampah kang keri iku, kaya dene ana wewisik. Ing penggalihe, kayadene ana suwara cacah loro kang dumeling, yaiku siji suwara Malaikat, siji suwara syetan, kang padha pepadon. Senajan suwara mau serone ora kaya lumrahe pepadon, nanging kukuh ora ana lerene. Kanjeng Sunan uga sadhar, yen perkara ala lan becik iku, wus sak pase, yen padha rebut papan, rebut unggul.

Gandheng rumangsa yen laku-lampah uzlah, durung ana tandha-tandha yen tumurun pituduhe Allah, tundhone Kanjeng Sunan anteb-anteban, nedya nindakake laku ngothongake padharane, tegese nindakake ngelih-ngelak. Bubar iku, Kanjeng Sunan protes lan nagih marang Allah “opahe” laku-lampah kasebut. Nanging Allah kayadene mung kendel, ora paring jawaban.

“Lha iya wus samesthine ta ya, yen aku nagih marang Allah, sengara kaparingan wangsulan, wong Allah pancen ora utang…!! Lha ya sengara nglunasi ta ya,… wah…!!!” ngono pangandikane ana penggalihe Kanjeng Sunan. Puntone Kanjeng Sunan mutusake, yen nedya meguru marang Sunan Bonang. Temenan. Kanjeng Sunan sawise iku, banjur nindakake laku sumingkir, ing desa Bonang. Kanjeng Sunan banjur nglebur tapak asta, lan nyuwun supaya didunungake marang hakekating urip kang haqiqi. Dening Sunan Bonang, Sunan Kalijaga kadhawuhan mangsah semedi, nindakake tapa-brata, sarana nunggoni wit gurda, lan ora dikeparangake jugar, sadurunge kadhawuhan jugar.

Wiwit wektu iku, kanjeng Sunan, dadi priyayi kang tuhu ngedap-edapi. Kekarepane kang teguh santosa, kang tanpa kendhat ambudidaya, mula ora mokal, karana idin saka Ngarsa Dalem Allah SWT. Wiwit iku uga rasa “ling-lang-ling-lung” baka sithik bisa uwal saka hanggane Kanjeng Sunan.

Kejaba iku, karana Kanjeng Sunan uga maksih turun priyayi adharah luhur, yaiku putra saka Kanjeng Adipati Tuban, ya panjenengane Wilatikta. Ya karana kawitane saka rasa “ling-lang-ling-lung”, mula wewarah kasebut winastan Suluk Ling-lung.


http://www.panjebarsemangat.co.id/suluk-linglung-sunan-kalijaga-ngemot-tauhid-lan-makrifat

Jumat, 02 Januari 2015

CANDRA SENGKALA KANG TINEMU ING BUKU PARARATON


1.     Pamalayu lan patumapel (tekaning prajurit saka Malayu lan prastawa Tumapel ) i çaka “Resi-Sanga-Samadhi”, 1197 (1275 M).
2.     Jaya Katong madeg ratu ing Daha i çaka “Naga-Muka-Dara-Tunggal”, 1198 (1276 M).
3.     Raden Wijaya madeg dadi ratu ing taun Çaka “Rasa Rupa Dwi Çitangsu” 1216 (1294 M).
4.     Raden Wijaya ajejuluk Çri Kertarajasa. seda disarekake ing Antapura, ing taun Çaka 1157 ( 1235 M).
5.     Kraman Ranggalawe ing taun Çaka “Kuda Bhumi Paksaning Wong” 1217 (1295 M).
6.     Jayanagara seda ing taun Çaka “Api-api Tangan Tunggal” 1233 (1311 M). :
7.     Patine Juru Demung ing taun Çaka “Arta Guna Paksa Wong” 1235 (1313 M)
8.     Semi diprajaya ing soring wit randhu ing taun Çaka “Nora Weda Paksa Wong” 1240 (1318 M).
9.     Kraman Kuti ing taun Çaka “Bhasmi Bhuta Nangani Ratu” 1250 (1328 M).
10. Bhreng Kahuripan madeg dadi ratu i çaka “Çunya-Wisaya-Paksa-Bhumi", 1250 (1328 M ).
11. Prastawa Sadeng ing taun Çaka “Kaya Bhuta Non Daging” 1253 (1331 M )
12. Perang Bubat ing taun Çaka “Sanga Turangga Paksa Wani” 1279 (1357 M)
13. Upacara paçraddhan agung ing taun Çaka “Pat Ula Ro Tunggal” 1284 (1362 M ).
14. Sang patih Gajah Mada seda ing taun Çaka “Gagana Muka Matendu” 1290 (1368 M).
15. Gajah Enggon madeg dadi patih ing taun Çaka “Guna Sanga Paksaning Wong” 1293 (1371 M).
16. Nuli ana gunung anyar ing taun Çaka “Naga Leng Karnaning Wong” 1298 (1376 M ) .
17. Guntur pamadhasih ing taun Çaka “Resi Çunya Guna Tunggal” 1307 (1385 M )
18. Bhre Tumapel seda, disarekake ing Çunyalaya taun Çaka”Matangga Sunya Kayeku” 1308 (1386 M).
19. Bhra Parameçwara Pamotan seda ing taun Çaka “Gagana Rupa Nahut Wulan” 1310 (1388 M ).
20. Bhre Hyang Wekasing Suka seda ing taun Çaka “Medini Rupa Rameku” 1311 (1389 M )
21. Guntur (longsor, banjir ) ing wuku Prangbakat ing taun Çaka “Mukaning Wong Kaya Naga” (?) 1317 (1395 M) .
22. Gajah Enggon mati ing taun Çaka “Çunya Paksa Kaya Janma” 1320 (1398 M).
23. Bhra Hyang Wekasing Suka seda ing Indrabhawana ing taun Çaka “Janma Netragni Çitangsu” 1321 (1399 M ).
24. Bhre Wirabhumi diprajaya digawa menyang Majapahit, disarekake ing Lung, dharmabhiseka ing Goriçapura ing taun Çaka “Naga Loro Nahut Wulan“ 1328 (1406 M).
25. Patih Gajah Maguri seda ing taun Çaka 1332 (1410 M).
26. Guntur ( banjir , longsor) ing wuku Julung pujut, ing taun Çaka “Kaya Weda Gunaning Wong” 1343 (1421 M).
27. Gajah Lembana seda ing taun Çaka “Pawanagni Kaya Bhumi” 1335 (1413 M ).
28. Palantaran agung ing taun Çaka “Liman Kaya Ngambah Lemah” 1338 (1416 M).
29. Pahilan agung ing taun Çaka “Naga Yuga Nahut Wong” 1348 (1426 M)
30. Bhra prabhu stri (Ratu Ayu ) seda ing taun Çaka “Rupa Nilagni Çitangsu” 1351 (1429 M).
31. Gusti Kanaka seda ing taun Çaka “Paksa Wihat Gunaning Wong” 1363 (1441 M).
32. Raden Gajah diprajaya bhre Wirabhumi ing taun Çaka “Bhuta Manah Antelu Tunggal” 1355 (1433 M).
33. Bhre Daha madeg ratu ing taun Çaka “Manawa Pancagni Wulan” 1359 (1437 M).
34. Bhre Parameswara seda ing Wisnubhawana ing taun Çaka “Nagaganaagni Çitangsu ( Naga Gana Agni Çitangsu )" 1368 (1446 M).
35. Bhre prabhu stri seda ing taun Çaka “Nawa Rasagni Çitangsu“ 1369 (1447 M).
36. Bhre prabhu seda ing taun Çaka “Bahni Parwata Kayeku“ 1373 (1451 M)
37. Bhre Wengker madeg dadi ratu, ajejuluk bhra Hyang Purwawisesa, ing taun Çaka “Brahmana Saptagnyanahut Wulan (?)" 1378 (1456 M)
38. Guntur ( banjir, longsor ) ing wuku Landhep ing taun Çaka “Pat Ula Telung Wit“ 1384 (1462 M).
39. Bhre Daha seda ing taun Çaka “Gana Brahmanagni Tunggal“ 1386 (1464 M).
40. Bhra Hyang Purwawisesa seda disarekake ing Puri, ing taun Çaka “Brahmana Nagagni Çitangsu” 1388 (1466 M).
41. Bhre Pandan Salas madeg ratu ing taun Çaka “Brahmana Naga Kaya Tunggal” 1388 (1466 M). 
42. Bhre prabhu seda ing Kedaton ing taun Çaka “Kayambara Sagareku“ 1403 (1481 M).
43. Pararaton tamat. Telas tinulis ing Icchasada ing Çelapenek, ing taun Çaka ; “Wisaya Guna Bayuning Wong” 1535 (1613 M ).



WATAKING TEMBUNG KANG ANA ING PARARATON :


  • Siji = tunggal, dhi, rupa, bumi, wong, sitangsu, ratu, daging, wani, indhu, iku, medini, janma, lemah, wit, iku,
  • Loro = dwi, paksa, tangan, nangani, anon, karna, mata, netra,
  • Telu = api, guna, kaya, nahut, rama, agni, ngambah, antelu, bahni, telung,
  • Papat = weda, yuga, pat, sagara,
  • Lima = arta, buta, wisaya, pawana, nila, manah, panca, bayu,
  • Nem = rasa, wihat, gana,
  • Pitu = resi, kuda, turangga, parwata, sapta,
  • Wolu = muka, naga, ula, matangga, liman, brahmana,
  • Sanga = sanga, muka, leng, Manawa, nawa,
  • Das = nora, bhasmi, sunya, gagana, ambara.